banner 728x90

Berita  

Tokoh Adat Sentani: 30 September adalah Sejarah, Jangan Ubah Sejarah Menjadi Konflik

Ondofolo Kampung Puay, Yacob Fiobetauw dan Ondofolo Kampung Atamali, Septinus Ibo didampingi Ondofolo Kampung Kwadeware, Nikson Marweri, Ondofolo Kampung Yobeh, Alberth Felle, dan salah satu tokoh Adat Sentani, Barnabas Nukoboi, saat di wawancara di Sentani, Senin 28/09/2026.

SENTANI, Jelajahpapua.com – Tokoh adat di Kabupaten Jayapura mengimbau masyarakat Papua, khususnya warga Sentani, agar tidak terprovokasi oleh isu yang mengangkat kembali peristiwa 30 September 1962 atau Roma Agreement.

Imbauan tersebut disampaikan Ondofolo Kampung Puay, Yacob Fiobetauw dan Ondofolo Kampung Atamali, Septinus Ibo didampingi Ondofolo Kampung Kwadeware, Nikson Marweri, Ondofolo Kampung Yobeh, Alberth Felle, dan salah satu tokoh Adat Sentani, Barnabas Nukoboi.

Ondofolo Kampung Puay, Yacob Fiobetauw, meminta masyarakat tidak menjadikan peristiwa sejarah sebagai alasan untuk melakukan tindakan yang dapat mengganggu keamanan, ketertiban dan kebersamaan di Tanah Papua.

Ondofolo Kampung Puay, Yakob Fiobetau, mengatakan masyarakat Papua harus meninggalkan polemik masa lalu dan memilih menjaga perdamaian demi masa depan generasi muda.
“Peristiwa itu adalah sejarah. Jangan pernah kembali ke belakang. Mari kita berpikir ke depan, bagaimana kita hidup ke depan lebih baik,” kata Yakob saat diwawancarai di Sentani, Senin (28/9/2026).

Menurutnya, Kabupaten jayapura, khusunya sentani telah menjadi rumah bersama bagi masyarakat dari berbagai suku. Karena itu, isu sejarah tidak boleh digunakan untuk membangun perpecahan.
“Para Ondoafi Sentani sudah menjadikan Sentani sebagai rumah bersama. Jangan kita membangun isu atau melakukan hal-hal yang merusak kebersamaan, ketenteraman dan keamanan kita,” tegasnya.

Ia mengajak seluruh masyarakat di Papua, khususnya Kabupaten Jayapura, menjaga persatuan dan memastikan Sentani tetap aman, nyaman dan damai.

Sementara itu, Ondofolo Kampung Atamali sekaligus Wakil Ketua Barisan Merah Putih (BMP) Kabupaten Jayapura, Septinus Ibo, meminta warga tidak mengikuti ajakan atau informasi yang dapat memicu tindakan negatif terkait isu 30 September dan Roma Agreement.
“Orang Sentani lebih tahu. Saya mengimbau seluruh masyarakat tetap aman, tenang di rumah dan jangan ikuti siapapun yang memberikan isu-isu negatif tentang tanggal 30 September dan perjanjian di Roma itu,” ujarnya.

Septinus menegaskan, peristiwa sejarah tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan tindakan yang melampaui batas kemanusiaan maupun mengganggu ketertiban umum.

Jangan Ubah Sejarah Menjadi Konflik

Kedua tokoh adat tersebut sepakat bahwa masyarakat tidak boleh terjebak pada isu yang berpotensi memecah persatuan. Mereka meminta warga lebih memikirkan keamanan keluarga, masa depan anak-anak dan pembangunan Papua.
“Jangan mengikuti perkembangan yang mempengaruhi kamu ke arah yang negatif,” kata Septinus.

Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat hidup dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta menerima berbagai program pemerintah, termasuk bantuan sosial dan dana kampung.

Karena itu, ia meminta imbauan para tokoh adat dihargai dan dilaksanakan demi menjaga Sentani tetap menjadi ruang hidup bersama yang aman dan damai.
“Jadikan Sentani sebagai rumah yang aman, nyaman, tenteram dan damai,” pungkasnya. (El)