SENTANI, Jelajahpapua.com – Festival Danau Sentani (FDS) XV Tahun 2026 tidak hanya diarahkan sebagai agenda budaya tahunan, tetapi menjadi momentum Pemerintah Kabupaten Jayapura untuk mendorong pengembangan pariwisata dan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Bupati Jayapura Dr. Yunus Wonda menegaskan, kawasan yang menjadi pusat pelaksanaan FDS XV akan terus dimanfaatkan sebagai destinasi wisata dan pusat kuliner setelah festival berakhir.
“Tempat ini akan menjadi kuliner permanen dan wisata permanen,” tegas Yunus.
Menurutnya, pembangunan berbagai fasilitas di kawasan festival merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah untuk menciptakan destinasi baru yang mampu menarik wisatawan sekaligus membuka ruang usaha bagi masyarakat lokal.
Konsep tersebut diharapkan membuat kawasan FDS tetap hidup sepanjang tahun. Tidak hanya ketika festival berlangsung, tetapi juga menjadi tempat masyarakat berwisata, menikmati kuliner khas Papua serta menjalankan aktivitas ekonomi.
“Yang kami mau supaya ekonomi masyarakat di sini bisa hidup,” ujarnya.
Salah satu potensi yang akan dikembangkan adalah wisata kuliner berbasis pangan lokal. Pengunjung nantinya dapat menikmati berbagai makanan khas Papua, termasuk papeda, sembari menikmati suasana alam di kawasan Danau Sentani.
Pengembangan wisata kuliner tersebut juga diharapkan memberikan ruang lebih besar bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif untuk memasarkan produk mereka kepada wisatawan.
Promosikan Keindahan Danau Sentani
FDS XV juga menjadi bagian dari strategi memperkenalkan keindahan Danau Sentani kepada wisatawan lokal, nasional hingga mancanegara.
Bupati Yunus mengatakan, kekuatan pariwisata Kabupaten Jayapura tidak hanya terletak pada keindahan alam, tetapi juga pada kekayaan budaya masyarakat Sentani yang menjadi identitas utama daerah.
Melalui festival, wisatawan dapat menyaksikan berbagai seni dan tradisi masyarakat, mulai dari tarian di atas perahu, seni lukis, kerajinan kulit kayu hingga berbagai tata nilai adat yang masih hidup di tengah masyarakat.
Tema FDS XV, “Budayaku adalah Hidupku”, menjadi penegasan bahwa pengembangan pariwisata harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya lokal.
“Budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi merupakan napas hidup sehari-hari bagi masyarakat,” kata Yunus.
Menurutnya, budaya dan pariwisata merupakan dua kekuatan yang saling melengkapi. Keindahan Danau Sentani menjadi daya tarik alam, sementara budaya masyarakat menjadi kekuatan yang memberikan karakter dan pengalaman berbeda bagi wisatawan.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong agar pengembangan kawasan FDS tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan, adat dan kehidupan masyarakat setempat.
Destinasi Baru untuk Ekonomi Masyarakat
Pemkab Jayapura berharap keberadaan kawasan wisata dan kuliner permanen tersebut dapat menciptakan perputaran ekonomi baru bagi masyarakat.
Pelaku UMKM, pengrajin, seniman, pelaku kuliner dan masyarakat lokal diharapkan dapat mengambil bagian dalam aktivitas ekonomi yang tumbuh di kawasan tersebut.
Dengan konsep tersebut, FDS XV tidak berhenti sebagai sebuah festival, tetapi menjadi pintu masuk untuk membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan di Kabupaten Jayapura.
“Kita ingin memperlihatkan kepada Indonesia dan internasional bahwa kebudayaan Papua tetap hidup, berdikari dan memancar dengan anggun,” ujar Yunus.
Bupati juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga fasilitas, kebersihan dan keamanan kawasan agar destinasi tersebut dapat digunakan dalam jangka panjang.
Pemerintah Kabupaten Jayapura berharap pengembangan kawasan FDS dapat memperkuat posisi Danau Sentani sebagai salah satu destinasi unggulan Papua, sekaligus memastikan pertumbuhan pariwisata memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat. (El)














