banner 728x90

Berita  

Satukan Barisan: Adat dan Pemuda Mamta-Tabi Bergerak Selamatkan Manusia, Hutan dan Masa Depan Papua

JAYAPURA, Jelajahpapua.com – Konferensi III Masyarakat Adat dan Konferensi I Pemuda Wilayah Mamta-Tabi dijadwalkan berlangsung pada 7-9 Oktober 2026 di Suni Hotel Sentani, Kabupaten Jayapura, dengan mengusung tema “Selamatkan Manusia, Hutan & Sumberdaya Papua.”
Agenda tersebut dimatangkan melalui pra konferensi yang berlangsung di Gedung Sophie, Padang Bulan, Kota Jayapura, Selasa (15/9/2026).

Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Adat Papua, Yohanis L. Rosumbre, mengatakan pra konferensi memiliki posisi strategis karena menjadi ruang untuk menyiapkan berbagai agenda, materi dan rekomendasi yang nantinya akan dibawa ke forum konferensi.

Menurutnya, konferensi tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial organisasi, tetapi harus menjadi momentum memperkuat konsolidasi kepemimpinan masyarakat adat Papua, khususnya di wilayah Mamta-Tabi.
“Atas nama pimpinan Dewan Adat Papua, kami memberikan apresiasi terhadap inisiatif yang dilakukan teman-teman pimpinan Dewan Adat Wilayah Mamta-Tabi,” kata Yohanis.

Ia menjelaskan, setelah penandatanganan nota kesepahaman pada 9 Agustus 2026, Dewan Adat Papua terus berada dalam satu barisan untuk mengawal proses konsolidasi masyarakat adat mulai dari tingkat wilayah, daerah hingga suku.

Konsolidasi tersebut dinilai penting karena masyarakat adat tidak hanya menghadapi persoalan internal kelembagaan, tetapi juga tantangan yang menyangkut keberlangsungan manusia Papua, tanah, hutan dan sumber daya alam.

Sementara itu, Ketua Dewan Adat Mamta-Tabi, Yakonias Wabrar, menegaskan konsolidasi Dewan Adat Daerah terus dilakukan sebagai bagian dari persiapan konferensi.

Ia menyebut kesiapan wilayah Mamta-Tabi semakin kuat, terutama dari sisi kepengurusan dan konsolidasi organisasi adat.

Namun, bagi Yakonias, keberadaan Dewan Adat tidak sebatas mengurus struktur organisasi.
Dewan Adat memiliki tanggung jawab moral dan kultural untuk memastikan tanah, hutan serta kearifan lokal yang diwariskan leluhur tetap dijaga dan diperjuangkan.
“Yang kami lakukan adalah membantu menjaga hutan mereka, tanah mereka, kemudian kearifan-kearifan lokal yang dimiliki secara adat turun-temurun. Itu yang kami ikut menjaga dan memperjuangkan,” ujarnya.

Menurutnya, perjuangan masyarakat adat harus berangkat dari kepentingan manusia Papua dan keberlanjutan ruang hidupnya.

Sebab, ketika hutan rusak dan tanah adat kehilangan fungsi serta kendali masyarakat adat, yang dipertaruhkan bukan hanya sumber daya alam, tetapi juga identitas, kebudayaan dan masa depan generasi Papua.

Yakonias juga menempatkan pemuda sebagai bagian penting dalam agenda tersebut.
Menurutnya, potensi sumber daya manusia pemuda Tabi perlu didata, dikonsolidasikan dan diberi ruang agar mampu mengambil peran dalam pembangunan daerah tanpa kehilangan akar adat dan identitasnya.

Ketua Panitia Konferensi III Masyarakat Adat dan Pemuda I Wilayah Mamta-Tabi, Yulianus Dwa, SKM., mengatakan panitia mendapat mandat untuk menyelenggarakan dua agenda besar tersebut.

Ia mengakui tanggung jawab tersebut cukup besar. Namun, menurutnya, agenda konferensi dapat diwujudkan melalui kolaborasi pemuda, Dewan Adat Papua dan Dewan Adat Mamta-Tabi.

Yulianus juga mengapresiasi kesiapan Pemerintah Kabupaten Jayapura yang akan menjadi tuan rumah pelaksanaan konferensi.
“Kami sebagai anak adat sangat menghormati perhatian yang luar biasa dari Bupati Jayapura. Hari ini kami bersyukur Kabupaten Jayapura sudah siap sebagai tuan rumah,” katanya.

Ia menilai dukungan pemerintah daerah menunjukkan bahwa adat memiliki posisi penting dalam pembangunan Papua.

Lebih jauh, Yulianus berharap konferensi tersebut mampu menghasilkan gagasan konkret untuk menjawab berbagai persoalan yang sedang dihadapi masyarakat Papua, termasuk persoalan fiskal daerah dan kebijakan-kebijakan yang berkaitan langsung dengan masa depan masyarakat adat.

Konferensi ini akan melibatkan perwakilan 50 orang dari masing-masing Dewan Adat Daerah (DAD), dengan komposisi 25 masyarakat adat dan 25 pemuda.

Selain delegasi DAD, forum juga akan diikuti delegasi Dewan Adat Papua (DAP), Dewan Adat Wilayah (DAW), delegasi dari lima provinsi lain di Tanah Papua, serta delegasi Papua Nugini (PNG) dan kawasan Pasifik.

Materi konferensi akan disesuaikan dengan kondisi dan persoalan aktual yang dihadapi masyarakat adat di Tanah Tabi dan Papua secara umum.

Pada pembukaan, panitia memperkirakan sekitar 700 orang akan hadir, sementara selama pelaksanaan konferensi jumlah peserta dan undangan diperkirakan mencapai sekitar 500 orang.
Berbagai komponen masyarakat Papua, termasuk para ondofolo dari kampung-kampung di wilayah Mamta-Tabi, juga akan dilibatkan dalam momentum tersebut.

Yulianus menegaskan, pemuda tidak boleh diposisikan hanya sebagai pelengkap dalam agenda adat. Pemuda harus dipersiapkan sebagai generasi penerus yang mengambil tanggung jawab menjaga identitas dan ruang hidup masyarakat adat.
“Pemuda ini adalah next generation. Artinya pemuda adalah pemilik masa depan,” tegasnya.

Ia mengingatkan, perkembangan zaman dan mobilitas pendidikan maupun pekerjaan tidak boleh membuat generasi muda Papua kehilangan hubungan dengan kampung, tanah dan identitas adatnya.

Karena itu, konferensi Mamta-Tabi diharapkan menjadi titik temu antara kekuatan adat dan energi pemuda untuk membangun agenda bersama: menjaga manusia Papua, mempertahankan hutan, melindungi tanah adat dan memastikan sumber daya alam Papua tidak menghilangkan hak serta masa depan generasi berikutnya.

Dengan tema “Selamatkan Manusia, Hutan & Sumberdaya Papua,” konferensi tersebut diarahkan bukan sekadar menghasilkan keputusan organisasi, tetapi menjadi pernyataan sikap bahwa masyarakat adat dan pemuda Mamta-Tabi ingin terlibat langsung menentukan arah masa depan Tanah Papua. (El)