SENTANI, Jelajahpapua.com – Ondoafi Kampung Sosiri, Boas Asa Enock, angkat bicara terkait rencana aksi demonstrasi penolakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut akan berlangsung pada 15 September 2026.
Boas menegaskan, program MBG boleh dikritisi apabila dalam pelaksanaannya ditemukan kekurangan atau hal-hal yang merugikan masyarakat. Namun, ia menolak keras jika pelajar SD, SMP hingga SMA dilibatkan dalam aksi demonstrasi tersebut.
Menurut Boas, persoalan MBG seharusnya disampaikan melalui jalur yang baik dan bertanggung jawab. Jangan sampai anak-anak sekolah justru dijadikan bagian dari kepentingan orang dewasa.
“Kalau memang ada hal-hal yang tidak menguntungkan kita, pasti pemerintah akan evaluasi. Tetapi jangan serta-merta menolak program ini,” ujar Boas di Sentani, Jumat (11/9/2026).
Jangan Korbankan Pendidikan Anak
Boas menilai pelajar memiliki tanggung jawab yang jauh lebih penting, yakni belajar dan mempersiapkan masa depan.
Karena itu, ia meminta seluruh pelajar di Kabupaten Jayapura agar tidak mudah terpengaruh oleh ajakan untuk mengikuti aksi penolakan MBG.
“Anak-anakku yang sementara belajar, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi, saya minta tolong. Tugas kalian hanya belajar dan belajar. Masa depan kalian ada di tangan kalian sendiri,” tegasnya.
Ia mengingatkan, jika terjadi sesuatu dalam sebuah aksi, pelajar bisa menjadi pihak yang paling dirugikan. Sementara orang yang mengajak mereka turun ke jalan belum tentu ikut menanggung dampaknya.
“Jangan sampai kalian dirugikan, sementara orang yang menghasut kalian menang dan tertawa di belakang kalian. Karena itu saya minta, jangan melakukan aksi maupun terlibat dalam demo penolakan MBG,” katanya.
Jangan Jadikan Pelajar Sasaran Provokasi
Boas secara tegas meminta pihak-pihak yang memiliki kepentingan untuk tidak menjadikan pelajar sebagai sasaran provokasi.
Menurutnya, anak-anak seharusnya tidak diseret ke dalam persoalan yang belum tentu mereka pahami secara utuh.
Ia bahkan meminta para pelajar berani menolak apabila ada pihak yang mengajak mereka mengikuti aksi.
“Kalau ada yang datang menghasut kalian, bilang saja, Pak, Ibu, Saudara, maaf kami tidak ikut. Kami masih belajar. Kami butuh pelajaran dan ilmu untuk masa depan kami,” ujarnya.
Kritik MBG Boleh, Tapi Sampaikan dengan Baik
Boas menegaskan, dirinya bukan berarti menutup mata terhadap persoalan dalam pelaksanaan MBG.
Jika terdapat makanan yang tidak layak, pelayanan yang bermasalah, atau hal lain yang merugikan anak-anak, menurutnya pemerintah harus melakukan evaluasi dan memperbaikinya.
Namun, kritik tersebut harus disampaikan secara tepat tanpa mengorbankan pendidikan anak.
“Kalau tidak mau menerima atau menikmati makanan MBG, sampaikan dengan baik. Jangan dengan tindakan yang akhirnya merugikan diri sendiri,” tuturnya.
Ia juga meminta orang tua dan guru ikut mengawasi anak-anak serta memberikan pemahaman agar mereka tidak mudah terbawa ajakan atau provokasi.
Boas kembali menegaskan bahwa masa depan pelajar jauh lebih penting daripada kepentingan kelompok atau pihak tertentu.
“Jangan lakukan hal-hal yang tidak menguntungkan kepada anak-anak. Biarkan anak-anak kita belajar dan belajar untuk masa depan mereka,” katanya.
Pesan paling keras disampaikan Boas kepada pihak yang mencoba mengajak pelajar turun ke jalan.
“Terutama kepada penghasut-penghasut, jangan menghasut anak-anak sekolah. Sekali lagi, jangan menghasut anak-anak sekolah. Tidak boleh,” tegasnya.
Boas berharap para pelajar di Kabupaten Jayapura tetap fokus mengikuti proses belajar mengajar dan tidak terlibat dalam aksi yang dapat mengganggu pendidikan mereka.
“Untuk itu, sekali lagi saya minta agar fokus untuk belajar, belajar dan belajar. Masa depan kalian bukan ditentukan oleh orang yang menghasut kalian, tetapi oleh diri kalian sendiri,” pungkasnya. (El)














