SENTANI, Jelajahpapua.com – Peringati Hari Kembalinya PAPUA ke Pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 1 Mei, para Ondofolo diwilayah sentani melalukan kegiatan Bakti Sosial pembagian sembako kepada masyarakat, di Heleybhey Obhe Kampung Sereh, Jumat 1 Mei 2026.
Ondofolo Kampung Sereh, Yanto Khomlay Eluay mengatakan tanggal 1 Mei merupakan momentum bersejarah dan kita memperingatinya dengan pembagian sembako kepada masyarakat.
Tidak hanya itu 1 Mei, juga bertepatan dengan perayaan Hari Masuknya Injil di Danau Sentani yang dirayakan oleh masyarakat adat Suku Sentani. Momentum ini menjadi sangat bermakna karena selain sebagai hari masuknya Injil, tanggal 1 Mei juga dikenang sebagai hari bergabungnya Papua ke dalam wilayah kedaulatan Republik Indonesia.
Dua peristiwa ini terjadi dalam waktu yang sama dan menjadi bagian penting dalam sejarah tanah Papua.
“Dari sini kita dapat melihat bahwa setiap peristiwa memiliki makna tersendiri dalam rencana Tuhan. Kita percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah bagian dari kehendak dan rancangan Tuhan,” ujarnya.
Baginya, perbedaan bukan alasan untuk terpecah, tetapi harus menjadi kekuatan untuk saling melengkapi
Ia juga menegaskan tokoh-tokoh adat memiliki peran penting dalam sejarah. Mereka turut hadir dan berpartisipasi dalam musyawarah besar pada tahun 1969, yang kita kenal sebagai Penentuan Pendapat Rakyat 1969.
Dalam musyawarah tersebut, para perwakilan masyarakat Papua ikut menentukan bahwa Papua menjadi bagian yang sah dan legal dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Hal ini penting untuk kita sampaikan sebagai pesan kepada generasi sekarang, bahwa orang tua dan leluhur kita juga terlibat langsung dalam proses sejarah tersebut. Mereka bukan hanya menjadi penonton, tetapi menjadi bagian dari penentu arah masa depan Papua.
Sebagai generasi penerus perlu menghargai dan memahami sejarah ini dengan baik. Apa yang sudah diputuskan oleh para pendahulu kita, tentu melalui pertimbangan dan situasi pada masa itu.
Kita tidak boleh melupakan sejarah, karena dari sejarah itulah kita belajar untuk melangkah ke depan dengan lebih bijaksana.
Sementara itu, Ondofolo Kampung Puay, Yakob Fiobetauw, menekankan bahwa pembangunan harus dimulai dari kampung sebagai lingkungan terdekat masyarakat.
“Kita tidak perlu terlalu jauh memikirkan hal-hal besar. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana kita membangun kampung kita masing-masing,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai isu atau ajakan yang dapat memecah persatuan.
“Jangan sampai kita terpengaruh oleh hal-hal yang justru merugikan kita sendiri. Kita harus menjaga kampung kita agar tetap aman, damai, dan harmonis,” katanya.
Jaga nilai-nilai adat sebagai pedoman hidup masyarakat, menjaga kebersamaan dan kedamaian di kampung kita,” tegasnya.
Kedua tokoh adat tersebut sepakat bahwa persatuan, nilai adat, dan kepedulian sosial menjadi kunci dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan sejahtera. (El)














