banner 728x90

Berita  

3 ASN Jadi Korban Penembakan, Tokoh Adat Tabi Kecam: Kalau Berjuang, Berjuanglah Secara Beradab

Ondofolo Kampung Puay, Yakob Fiobetau; Ondofolo Hedam Dasim Kleubeuw, Harly Ohei, S.H. dan Ondofolo Kampung Sereh, Yanto Eluay, saat di wawancara di Sentani, Jumat, 11/09/2026.

SENTANI, Jelajahpapua.com – Sejumlah tokoh adat di wilayah Tabi, Kabupaten Jayapura, mengecam keras penembakan terhadap rombongan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya di Distrik Muliama yang menewaskan tiga aparatur sipil negara (ASN), Rabu (9/9/2026).

Para tokoh adat menilai aksi kekerasan tersebut bukan hanya merenggut nyawa manusia, tetapi juga mengganggu pelayanan pemerintahan dan mencoreng citra Papua sebagai tanah damai dan tanah Injil.

Kecaman itu disampaikan Ondofolo Kampung Puay, Yakob Fiobetau; Ondofolo Hedam Dasim Kleubeuw, Harly Ohei, S.H. dan Ondofolo Kampung Sereh, Yanto Eluay, saat di wawancara di Sentani, Jumat 11/09/2026.

Ondofolo Yakob Fiobetau mengatakan, para ASN yang bertugas di Papua telah meninggalkan keluarga dan kampung halaman mereka untuk menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.

Ondofolo Yakob Fiobetau mengatakan, sebagian pegawai bahkan berasal dari luar Papua, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Toraja.

Ia menilai tindakan kekerasan terhadap mereka merupakan pelanggaran terhadap nilai kemanusiaan.
“Sebagai tokoh adat, saya mengutuk keras peristiwa tersebut. Ini sangat mengganggu pelayanan dan pekerjaan aparat sipil negara,” ujarnya.

Yakob juga menegaskan, Papua tidak boleh dikenal sebagai daerah yang membenarkan kekerasan.
“Peristiwa ini sangat mencoreng nama baik orang Papua pada umumnya. Papua dikenal sebagai tanah damai, tanah Injil, bukan tanah yang mengakui dan membenarkan perbuatan seperti ini,” katanya.

Sementara itu, Ondofolo Hedam Dasim Kleubeuw, Harly Ohei, S.H., menyampaikan belasungkawa kepada keluarga ketiga korban sekaligus mengecam tindakan kekerasan tersebut.

Ia menilai masyarakat sipil yang tidak terlibat dalam konflik tidak boleh dijadikan sasaran.
“Kejadian-kejadian yang tidak berpeduli pada kemanusiaan, tidak ada rasa kemanusiaan dalam melakukan tindakan brutal seperti ini, sangat kami sayangkan,” tegas Harly.

Menurutnya, siapa pun pelakunya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya melalui proses hukum.

Ia juga mengingatkan kelompok-kelompok yang masih berseberangan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) agar tidak melakukan tindakan yang justru mencoreng nama Papua.
“Kami berharap saudara-saudara kita yang masih berseberangan dengan NKRI, apakah mereka betul-betul sebagai OPM atau hanya pelaku kriminal yang menggunakan senjata api, kami harap menjaga hal-hal yang justru menjadi penilaian buruk atau mencederai orang Papua secara keseluruhan,” ujarnya.

Hal senada juga di sampaikan Ondofolo Kampung Sereh, Yanto Eluay, menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban.
Ia menegaskan masyarakat sipil tidak seharusnya menjadi korban dari konflik atau kepentingan kelompok tertentu.
“Kalau berjuang, berjuanglah yang beradab. Jangan masyarakat sipil selalu menjadi korban,” tegasnya.

Menurutnya, para korban merupakan pekerja yang menjalankan tugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat di wilayah tersebut.
“Masyarakat yang menjadi korban ini adalah masyarakat yang hidup dan berbaur dengan kehidupan kita setiap hari. Mereka bekerja di sana untuk kemanusiaan dan membantu mengembangkan kehidupan masyarakat di daerah Puncak,” katanya.

Ia menegaskan, siapa pun yang menjadi korban kekerasan tetap merupakan manusia yang hak hidupnya harus dihormati.

Desak TNI-Polri Ungkap dan Tindak Pelaku
Para tokoh adat dan masyarakat tersebut juga meminta aparat keamanan segera mengungkap kasus dan menangkap para pelaku sesuai hukum yang berlaku.
“Kami para anggota dewan di sini mengutuk keras perbuatan tersebut. Kami minta TNI dan Polri segera bertindak tegas terhadap siapa saja pelakunya,” kata Yanto.

Ondofolo Eluay juga meminta aparat negara mengambil langkah tegas untuk menciptakan rasa aman bagi masyarakat.
“Oleh sebab itu kami minta dilakukan tindakan hukum yang tegas dari aparat negara, dari Polri maupun TNI, untuk menindak para pelaku seperti ini,” ujarnya.Para tokoh adat Tabi sepakat bahwa keamanan dan kedamaian merupakan syarat utama bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Papua.

“Kepada seluruh masyarakat di wilayah Lapago, di mana banyak sekali kejadian-kejadian terjadi, kami harap untuk sama-sama berkomitmen seperti kami untuk menciptakan Papua yang aman dan damai,” katanya.

Menurutnya, pembangunan tidak akan berjalan maksimal apabila masyarakat terus hidup dalam ketakutan.
“Kami ingin Papua ini aman, damai. Papua bisa berkembang maju, pembangunan rakyat bisa sejahtera. Kemajuan satu daerah dan kesejahteraan masyarakat ditentukan oleh keamanan dan kedamaian,” tegasnya.

Ondo Eluay menegaskan masyarakat adat di Sentani telah berkomitmen menjadikan Kabupaten Jayapura sebagai rumah bersama bagi siapa pun.
“Kami tokoh-tokoh adat di Sentani sudah menjadikan Sentani dan Kabupaten Jayapura sebagai rumah bersama. Siapa pun boleh datang menikmati hidup yang aman di Tanah Tabi,” ujarnya.

Ia berharap semangat tersebut dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Papua.
“Di mana pun kita berada, mari kita jaga kesatuan dan persatuan seluruh orang Papua. Mari kita tinggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan peri kemanusiaan,” ajaknya.

Para tokoh adat juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga ketiga korban yang dinilai telah mengabdikan diri untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat Papua.
“Kepada ketiga korban dan keluarga besar mereka, kami atas nama masyarakat adat menyampaikan turut berdukacita dan belasungkawa yang tinggi karena mereka sudah mengabdi di sini, membantu orang Papua, bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan melayani rakyat,” pungkasnya. (El)