SENTANI TIMUR, Jelajahpapua.com – Festival Danau Sentani (FDS) XV Tahun 2026 resmi ditutup oleh Gubernur Provinsi Papua, Komjen Pol. (Purn.) Drs. Mathius Derek Fakhiri, S.I.K., M.H., Sabtu 05/09/2026 malam.
Gubernur Papua dalam sambutan penutupan FDS XV menyampaikan, rangkaian festival telah membuktikan bahwa Danau Sentani memiliki kekuatan besar sebagai ruang hidup, ruang budaya, sekaligus ruang perjumpaan masyarakat.
Festival yang digelar di kawasan Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, tetapi harus menjadi penggerak pariwisata, ekonomi kreatif, dan pelestarian budaya Papua.
Berbagai pentas seni dan budaya, tari tradisional, musik suling tambur, pameran budaya, keterlibatan kampung dan distrik, hingga partisipasi komunitas menjadi bukti bahwa kekayaan budaya Papua dapat dikemas menjadi daya tarik pariwisata.
“Danau Sentani bukan hanya ruang geografis, tetapi juga ruang hidup, ruang budaya, dan ruang perjumpaan bagi seluruh masyarakat yang ada di Provinsi Papua maupun Tanah Papua,” tegas Gubernur.
Ia menilai, pengembangan pariwisata Danau Sentani harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat lokal. Keterlibatan pelaku UMKM, seniman, komunitas, masyarakat adat, dan dunia usaha dinilai menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pariwisata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Gubernur juga menekankan bahwa kebudayaan tidak cukup hanya ditampilkan dalam festival. Budaya harus dilindungi, dikembangkan, dihargai, sekaligus mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Ketika para pelaku ekonomi kreatif, seniman, komunitas, dan masyarakat lokal diberikan ruang, maka budaya dapat menjadi sumber kreativitas sekaligus sumber penghidupan,” ujarnya.
Gubernur Papua menegaskan, pelaksanaan FDS ke depan harus diarahkan lebih jauh. Festival tidak boleh hanya menjadi tontonan, tetapi harus menjadi bagian dari strategi pengembangan destinasi wisata Papua.
Potensi Danau Sentani, menurutnya, harus dikelola secara konsisten dengan mengedepankan kekuatan budaya dan masyarakat adat sebagai identitas utama destinasi.
“Festival Danau Sentani bukan hanya agenda tahunan, tetapi gerakan bersama untuk memastikan budaya Papua tetap hidup, berkembang, dan diwariskan secara turun-temurun kepada anak cucu kita,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pengembangan pariwisata dan kelestarian Danau Sentani. Pertumbuhan kunjungan wisatawan harus dibarengi dengan kepedulian terhadap lingkungan serta keberlanjutan kawasan.
Selain pariwisata, Gubernur memberikan perhatian khusus kepada generasi muda Papua. Ia meminta anak-anak muda tidak kehilangan identitas di tengah derasnya modernisasi.
Generasi muda didorong untuk mempelajari bahasa daerah, seni, cerita rakyat, kerajinan, musik, serta berbagai kearifan lokal yang diwariskan leluhur.
“Kita harus memastikan bahwa modernisasi tidak membuat kita kehilangan jati diri,” tegasnya.
Menurut Gubernur, kekuatan budaya tersebut sejalan dengan semangat Papua Cerah. Papua Cerdas adalah Papua yang generasi mudanya mengenal dan menghargai identitas budaya. Papua Sejahtera adalah Papua yang mampu mengembangkan potensi lokal menjadi peluang ekonomi. Sedangkan Papua Harmoni adalah Papua yang menjadikan keberagaman sebagai kekuatan persatuan.
Karena itu, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam membangun pariwisata Papua.
Ia menegaskan, kemajuan pariwisata dan ekonomi lokal membutuhkan kolaborasi pemerintah, masyarakat adat, tokoh agama, dunia usaha, komunitas, seniman, budayawan, dan seluruh elemen masyarakat.
“Papua tidak dapat dibangun oleh pemerintah semata. Papua hanya akan maju apabila pemerintah, masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dunia usaha, komunitas, dan seluruh elemen masyarakat berjalan bersama-sama dalam semangat gotong royong,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Gubernur Papua mengingatkan bahwa berakhirnya FDS XV bukan berarti berakhir pula semangat menjaga budaya dan mengembangkan pariwisata Danau Sentani.
“Budayaku adalah hidupku. Budayaku adalah identitasku. Budayaku adalah warisanku. Menjaga budaya Papua adalah tanggung jawab kita bersama,” tegasnya. (El)














