SENTANI TIMUR, Jelajahpapua.com – Festival Danau Sentani (FDS) XV Tahun 2026 tidak hanya menjadi panggung untuk menampilkan seni dan budaya Papua, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui pengembangan produk lokal.
Salah satunya dilakukan Welmins Tukayo, yang memanfaatkan sagu sebagai bahan dasar es krim dan menjualnya selama pelaksanaan FDS XV di Sentani Timur, Kabupaten Jayapura. Dari usaha tersebut, Welmins mengaku mampu meraup omzet hingga Rp8 juta dalam sehari.
Welmins mengatakan, keikutsertaannya dalam FDS bukan semata-mata untuk mencari keuntungan. Ia ingin menunjukkan kepada generasi muda Papua bahwa potensi lokal dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
“Saya jual es krim sagu ini untuk memotivasi anak-anak supaya mereka bisa berupaya untuk hidup. Hidup itu harus diusahakan dan diperjuangkan,” kata Welmins saat ditemui di lokasi FDS XV, Sabtu (5/9/2026).
Welmins yang sehari-hari bekerja sebagai ASN pada Dinas Kesehatan Provinsi Papua dan juga mengajar di Universitas Cenderawasih serta Poltekkes Kemenkes Jayapura tersebut mengaku tidak malu menjalankan usaha di luar pekerjaannya.
Menurutnya, bekerja dan berusaha secara jujur tidak perlu dipandang rendah.
“Saya dorong gerobak supaya semua lihat, oh begini cara mencari uang. Asal kita tidak mencuri, itu prinsip,” ujarnya.
Sagu Diolah Jadi Produk Bernilai Ekonomi
Es krim yang dijual Welmins menggunakan sagu mentah yang terlebih dahulu dikeringkan dan disangrai hingga berubah warna. Sagu tersebut kemudian dicampur dengan bahan lainnya sebelum diolah menjadi es krim.
Produk tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana bahan pangan lokal Papua dapat dikembangkan menjadi makanan dengan bentuk dan nilai jual yang berbeda.
Welmins mengaku sudah tiga kali mengikuti dan berjualan dalam kegiatan FDS. Namun, pada FDS XV tahun ini, penjualannya mengalami peningkatan cukup signifikan seiring tingginya jumlah pengunjung.
Dalam sehari, satu gerobak es krim sagu dapat terjual sekitar 700 hingga 800 mangkuk. Dengan harga Rp10 ribu per mangkuk, omzet penjualan satu gerobak bisa mencapai sekitar Rp7 juta hingga Rp8 juta per hari.
“Kalau satu gerobak habis, biasa 700 mangkuk lebih. Satu mangkuk Rp10 ribu. Kalau 800 porsi, sekitar Rp8 juta. Paling kasar Rp7 juta per hari,” jelasnya.
Angka tersebut jauh berbeda dibandingkan penjualan pada hari biasa yang menurut Welmins terkadang hanya mencapai sekitar Rp200 ribu per hari.
Selama pelaksanaan FDS XV, ia bahkan mengaku telah menghabiskan sekitar lima gerobak es krim sagu.
“Saya mau bersyukur sekali. Lima gerobak sudah habis,” katanya.
Menurut Welmins, pengalaman berjualan selama FDS menunjukkan bahwa event pariwisata dapat memberikan dampak langsung terhadap perputaran ekonomi masyarakat.
Ramainya pengunjung menjadi peluang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk lokal sekaligus mendapatkan pasar baru.
Ia menilai sagu tidak hanya memiliki nilai sebagai bahan pangan masyarakat Papua, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif yang memiliki nilai tambah ekonomi.
“Kalau potensi lokal seperti sagu bisa kita olah menjadi berbagai produk, maka nilai ekonominya juga bisa meningkat,” ujarnya.
Welmins berharap pelaksanaan FDS ke depan terus memberikan ruang bagi masyarakat dan pelaku UMKM untuk menampilkan produk lokal Papua.
Menurutnya, festival tidak hanya harus menjadi ajang hiburan dan promosi budaya, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat, khususnya dengan memberikan kesempatan kepada pelaku usaha lokal untuk memperluas pasar dan meningkatkan pendapatan.
(El)














