SENTANI, Jelajahpapua.com — SMP Negeri 2 Sentani menggelar kegiatan Pentas Seni Budaya Etnis Nusantara yang menjadi bagian dari rangkaian ujian praktik bagi siswa kelas IX, setelah sebelumnya mengikuti Tes Kompetensi Akademik (TKA) dan ujian sekolah tertulis, kata Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Sentani, Murni, S.Pd., M.Pd., saat di wawancara di Lapangan SMPN 2 Sentani, Rabu, 29/04/2026
Murni menjelaskan kegiatan ini merupakan program rutin tahunan yang wajib diikuti oleh seluruh siswa kelas IX. Setelah menempuh pembelajaran selama tiga tahun di dalam kelas, para siswa diberikan ruang untuk menampilkan kemampuan, bakat, dan minat mereka melalui pertunjukan seni dan budaya.
“Pentas seni ini bukan hanya kegiatan biasa, tetapi juga bagian dari ujian praktik. Jadi setelah ujian tertulis, mereka langsung masuk ke ujian praktik melalui penampilan ini,” ujarnya.
Pada tahun ini, sebanyak 404 siswa kelas IX terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Mereka dibagi ke dalam 10 kelompok etnis Nusantara, di antaranya Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga Papua yang terbagi dalam beberapa wilayah seperti pegunungan, pesisir, dan Sentani Barat.
Setiap kelompok menampilkan kekayaan budaya daerah masing-masing, mulai dari tarian tradisional hingga kuliner khas. Seluruh persiapan, termasuk latihan, kostum, hingga penyediaan stand kuliner, dilakukan secara mandiri oleh siswa bersama dukungan penuh dari orang tua.
“Semua ini didukung orang tua, mulai dari latihan, persiapan makanan, sampai penyediaan tenda. Sekolah memberikan ruang dan dukungan, tetapi pelaksanaan teknis banyak dilakukan oleh orang tua dan siswa,” jelasnya.
Selain sebagai ajang unjuk bakat, kegiatan ini juga menjadi sarana penilaian untuk beberapa mata pelajaran seperti muatan lokal, PPKn, IPS, dan Bahasa Indonesia.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan pentas seni kali ini berlangsung lebih meriah dengan durasi penampilan yang lebih panjang, yakni antara 30 hingga 45 menit. Hal ini dilakukan agar siswa dapat menampilkan hasil latihan mereka secara maksimal.
“Kami ingin mereka tampil total. Mereka sudah latihan lama, jadi kami beri waktu lebih panjang agar hasilnya lebih maksimal,” tambahnya.
Ke depan, pihak sekolah berencana mengembangkan kegiatan ini tidak hanya sebagai ajang penilaian, tetapi juga kompetisi dengan menghadirkan dewan juri dari instansi terkait seperti Dinas Pariwisata dan pihak lainnya.
Murni berharap melalui kegiatan ini, sekolah berharap dapat menumbuhkan kecintaan siswa terhadap budaya sekaligus memperkuat karakter dan kreativitas generasi muda.
“Kegiatan ini juga bagian dari pengenalan dan pelestarian budaya. Kita ingin membumikan budaya kepada generasi muda,” tutupnya. (El)














