banner 728x90

Berita  

Pemerhati Disabilitas Apresiasi Bengkel Disabilitas Sinode GKI Papua

JAYAPURA, Jelajahpapua.com – Pemerhati sekaligus Pengurus Disabilitas Papua, Renaldy David Aufey, ST., mengapresiasi langkah Sinode Am Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua yang mendirikan dan mengoperasikan Bengkel Disabilitas. Menurutnya, program tersebut menjadi tonggak penting dalam mewujudkan kemandirian penyandang disabilitas, khususnya penyandang disabilitas daksa.

Renaldy mengatakan, kehadiran Bengkel Disabilitas merupakan buah dari doa dan perjuangan panjang berbagai pihak yang selama ini memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas di Papua.

Ia menjelaskan, bengkel tersebut dioperasikan langsung oleh penyandang disabilitas dengan pendampingan tenaga ahli profesional. Bengkel ini menyediakan pembuatan alat bantu seperti kaki palsu dan tangan palsu dengan kualitas yang tidak kalah dari luar daerah.
“Selama ini penyandang disabilitas harus mengeluarkan biaya besar hingga belasan juta rupiah dan pergi ke luar Papua untuk mendapatkan kaki atau tangan palsu. Kini, semua itu bisa dibuat di Papua oleh anak-anak disabilitas asli Papua,” ujar Renaldy.

Menurutnya, meski bengkel tersebut saat ini berfokus pada penyandang disabilitas daksa, perhatian terhadap kelompok disabilitas lainnya seperti tunanetra, tunarungu, dan tunagrahita juga tetap harus menjadi bagian dari pelayanan bersama.

Renaldy menilai langkah Sinode GKI merupakan bukti nyata kepedulian gereja dalam memberdayakan penyandang disabilitas agar tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memiliki keterampilan, pekerjaan, dan kehidupan yang mandiri.

Ia berharap program tersebut terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi gereja-gereja lain maupun berbagai pihak, termasuk pemerintah, dunia usaha, perbankan, akademisi, tokoh adat, serta TNI dan Polri untuk ikut membuka ruang bagi penyandang disabilitas.

Dalam refleksinya, Renaldy mengutip kisah Bartimeus dalam Markus 10:46-51 sebagai gambaran bahwa penyandang disabilitas tidak boleh diabaikan, melainkan harus dirangkul dan diberi kesempatan untuk berkembang.
“Melalui Bengkel Disabilitas ini, gereja telah menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan dan dapat berkarya apabila diberi kesempatan. Harapan kami, semangat ini terus berlanjut sehingga semakin banyak penyandang disabilitas di Papua yang mandiri, produktif, dan memperoleh kehidupan yang lebih sejahtera,” tuturnya.

Renaldy menegaskan, kepedulian terhadap penyandang disabilitas bukan hanya menjadi tanggung jawab gereja, tetapi juga seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang inklusif dan memberikan kesempatan yang setara bagi semua orang. (El)