banner 728x90

banner 728x90

Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting 2026 Mulai Dilakukan Pemkab Jayapura

SENTANI, Jelajahpapua.com – Diawali dengan Aksi 1 Analisis Situasi, Pemerintah Kabupaten Jayapura mulai melaksanakan Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2026 yqng di laksanakan, Senin 26/01/2026.
Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Jayapura, Yusuf Yambe Yabdi dalam sambutan Bupati Jayapura mengatakan penurunan stunting masih membutuhkan kerja keras dan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Penanganan stunting tidak dapat dilakukan oleh satu sektor saja, melainkan harus dilaksanakan secara terkoordinasi dan berkelanjutan.

Pemerintah Kabupaten Jayapura menargetkan penurunan angka stunting sebesar 14,2 persen pada tahun 2029. Target tersebut menjadi komitmen pemerintah daerah untuk memastikan anak-anak di Kabupaten Jayapura dapat tumbuh sehat dan berkembang secara optimal.i

Melalui Aksi 1 Analisis Situasi, pemerintah daerah melakukan pemetaan permasalahan stunting di kampung-kampung sebagai dasar penentuan intervensi yang tepat sasaran.

Sasaran penanganan stunting meliputi ibu hamil, ibu nifas dan menyusui, baduta, balita, remaja putri, calon pengantin, rumah tangga, hingga masyarakat secara umum.

Ia juga menegaskan peran Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan, khususnya dalam pendataan sasaran, pemantauan tumbuh kembang anak, penguatan Posyandu, serta edukasi kepada keluarga.

Selain itu, Bappeda Kabupaten Jayapura berperan mengoordinasikan program lintas sektor agar berjalan selaras dan tidak tumpang tindih dalam upaya percepatan penurunan stunting.

Kepala Bidang Sosial Budaya Bappeda Kabupaten Jayapura, Hijrayani, mengatakan pelaksanaan aksi konvergensi stunting berlangsung pada 26-30 Januari 2026, yang diawali dengan Aksi 1 Analisis Situasi.

Pada tahap ini, seluruh OPD, distrik, dan puskesmas melakukan pemetaan permasalahan di kampung-kampung yang menjadi faktor penyebab terjadinya stunting pada anak.

Hijrayani mengungkapkan bahwa angka stunting di Kabupaten Jayapura mengalami peningkatan, dari 744 anak pada tahun sebelumnya menjadi 931 anak atau sebesar 19,46 persen dari 4.785 bayi yang diukur.

“Ini menjadi pekerjaan rumah bersama bagi seluruh OPD agar program yang dijalankan dapat terintegrasi dan benar-benar menyasar faktor penyebab stunting, sehingga angkanya dapat ditekan,” pungkasnya.**