banner 728x90

Berita  

Launching STKIP Papua, Tonggak Baru Pengembangan Pendidikan Tinggi di Tanah Papua

Penandatanganan Surat keputusan menteri pendidikan tinggi, Sains, dan teknologi nomor 564/B/0/2026. Tentang ijin pendirian sekolah tinggi keguruan dan ilmu pendidikan STKIP PAPUA dengan program studi pendidikan guru sekolah dasar program sarjana di kabupaten jayapura provinsi papua oleh kepala LLDIKTI Wilayah XIV, kepada Ketua STKIP Papua, Edison Awoitauw S.T., S.H., M.H., di Hotel Suni Sentani, Senin 08/06/2026.

SENTANI, Jelajahpapua.com – Dunia pendidikan di Papua kembali mencatat sejarah baru dengan dilaksanakannya Launching Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Papua sekaligus penyerahan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 564/B/O/2026 tentang Izin Pendirian Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Papua.

Surat keputusan tersebut diserahkan secara resmi oleh Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XIV, Dr. Suriel Samuel Mofu, S.Pd., M.Ed., TEFL., M.Phil, kepada Ketua STKIP Papua, Edison Awoitauw S.T., S.H., M.H., di Hotel Suni Sentani, Senin 08/06/2026.

Pendirian STKIP Papua mendapat izin penyelenggaraan dengan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Program Sarjana (S1), yang diharapkan menjadi salah satu pusat pengembangan sumber daya manusia di bidang pendidikan, khususnya dalam mencetak calon guru profesional untuk memenuhi kebutuhan tenaga pendidik di Papua.

Kepala LLDIKTI Wilayah XIV, Suriel Samuel Mofu,
mengatakan kehadiran STKIP Papua merupakan langkah strategis dalam memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan di Papua.

Menurutnya, kebutuhan guru yang kompeten dan berkarakter masih menjadi tantangan besar di berbagai daerah, sehingga keberadaan perguruan tinggi yang fokus pada pendidikan keguruan sangat penting untuk menjawab kebutuhan tersebut.
“Penerbitan izin ini merupakan bentuk kepercayaan pemerintah kepada penyelenggara pendidikan tinggi untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia Papua. Kami berharap STKIP Papua dapat menjalankan tata kelola perguruan tinggi yang baik, menjaga mutu pendidikan, dan menghasilkan lulusan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan,” ujarnya.

Pendirian STKIP Papua dilatarbelakangi oleh masih rendahnya angka partisipasi pendidikan tinggi di sejumlah wilayah Kabupaten Jayapura, terutama di daerah-daerah yang jauh dari pusat kota. Menjaga dan mengembangkan nilai-nilai budaya serta kearifan lokal Papua melalui pendidikan formal.

Dengan mendidik calon guru di daerah sendiri, materi pembelajaran yang dihasilkan diharapkan lebih kontekstual dan sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat Papua. Hal ini menjadi langkah penting dalam menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman.
“Guru-guru yang dididik di sini akan memahami konteks lokal, adat istiadat, dan budaya masyarakat setempat. Mereka nantinya dapat menghasilkan materi pembelajaran yang relevan sehingga budaya Papua tetap terpelihara,” katanya.

Dari sisi ekonomi, keberadaan perguruan tinggi di Kabupaten Jayapura juga diyakini mampu memberikan dampak positif. Selama ini, banyak mahasiswa Papua yang harus melanjutkan studi ke luar daerah sehingga pengeluaran pendidikan turut mengalir ke daerah lain.

Dengan hadirnya STKIP Papua, dana pendidikan, termasuk beasiswa yang diberikan pemerintah, dapat berputar di daerah dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.
Pada kesempatan tersebut juga ditegaskan bahwa STKIP Papua telah resmi beroperasi dan diperbolehkan menerima mahasiswa baru. Perguruan tinggi tersebut memperoleh akreditasi minimum “Baik” yang dijamin selama lima tahun pertama penyelenggaraan program studi.

Namun demikian, pihak yayasan dan pimpinan perguruan tinggi diharapkan segera mengurus akreditasi definitif guna memperoleh kepastian hukum dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dalam jangka panjang.

LLDIKTI Wilayah XIV juga menyatakan komitmennya untuk memberikan dukungan kepada STKIP Papua, baik dalam layanan pengembangan dosen seperti Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN), jabatan fungsional, hingga sertifikasi dosen.

Selain itu, mahasiswa STKIP Papua juga berpeluang mendapatkan berbagai program bantuan pendidikan dan beasiswa setelah perguruan tinggi tersebut memperoleh akreditasi definitif.
“Ketika sudah terakreditasi definitif, mahasiswa dari keluarga kurang mampu dapat memperoleh akses terhadap berbagai program beasiswa. Ini menjadi peluang besar bagi generasi muda Papua untuk mendapatkan pendidikan tinggi yang berkualitas,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua STKIP Papua, Edison Awoitauw S.T., S.H., M.H., menyampaikan kehadiran Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Papua di Kabupaten Jayapura merupakan bentuk komitmen lembaga tersebut dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia, khususnya di bidang pendidikan di Tanah Papua.

Menurutnya, STKIP Papua hadir untuk mencetak dan menyuplai tenaga pendidik yang berkualitas bagi berbagai daerah di Provinsi Papua dan wilayah Papua lainnya.
“Kami ingin berkontribusi membangun sumber daya manusia di bidang pendidikan sehingga dapat menyuplai tenaga-tenaga guru di beberapa provinsi yang berada di Tanah Papua,” ujarnya.

Saat ini, STKIP Papua telah memulai pembangunan tiga gedung sebagai tahap awal pengembangan kampus. Setelah resmi menerima Surat Keputusan pendirian dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, pihak kampus juga akan segera membuka penerimaan mahasiswa baru.
“Penerimaan mahasiswa baru akan kami buka mulai minggu ini,” katanya.

Untuk sementara, kantor STKIP Papua berlokasi di Doyo Baru, sedangkan kampus permanen akan dibangun di wilayah Dosai, Distrik Sentani Barat.

Pada tahap awal, STKIP Papua membuka satu program studi, yakni Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Target penerimaan mahasiswa angkatan pertama sebanyak 80 mahasiswa, dengan proses perkuliahan direncanakan mulai berlangsung pada September 2026.

Terkait tenaga pengajar, Edison menjelaskan bahwa sejumlah dosen telah menyatakan kesediaannya untuk mengajar di STKIP Papua, termasuk beberapa akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
“Kami sudah memiliki dosen-dosen yang siap mengajar, termasuk beberapa dosen dari UGM yang akan mendukung proses pembelajaran,” jelasnya.

Kehadiran STKIP Papua diharapkan dapat membuka kesempatan yang lebih luas bagi generasi muda Papua untuk mengenyam pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan daerah asalnya.

Selain menjadi lembaga pendidikan yang mencetak tenaga pendidik, STKIP Papua juga diharapkan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang mampu menjawab berbagai tantangan pendidikan di Papua.

Ke depan, STKIP Papua berencana menambah program studi dan fakultas guna memperluas layanan pendidikan tinggi di Papua. Bahkan, pihaknya menargetkan perubahan status menjadi universitas pada tahun 2027. (El)