banner 728x90

Berita  

Jelang Aksi 15 September, Tokoh Adat Tanah Tabi Serukan Pelajar Tak Terprovokasi

SENTANI, Jelajahpapua.com – Sejumlah tokoh adat di Tanah Tabi, Kabupaten Jayapura, Papua, kompak menyerukan pelajar dan mahasiswa agar tidak terseret isu maupun ajakan aksi yang berpotensi mengganggu keamanan dan kedamaian di Sentani.

Seruan tersebut disampaikan menyusul informasi mengenai rencana aksi pada 15 September yang dikaitkan dengan penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Para tokoh adat meminta generasi muda tidak menjadi sasaran provokasi. Pelajar dan mahasiswa diminta tetap fokus pada pendidikan serta tidak mengambil bagian dalam tindakan yang berpotensi memicu kericuhan.

Ondofolo Kampung Puay, Yacob Fiobetauw, secara khusus mengajak pelajar dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK menjaga ketenteraman Tanah Tabi.
“Mari kita jaga ketenteraman, kedamaian di Tanah Tabi, di Kabupaten Jayapura, khususnya di Sentani,” ujar Yacob.

Ia mengingatkan bahwa masa depan Tanah Tabi berada di tangan generasi muda. Karena itu, energi pelajar seharusnya diarahkan untuk belajar dan mengejar cita-cita, bukan terseret dalam gerakan yang dapat merugikan diri sendiri.
“Anak-anakku, agar kita semua tekun dalam mengikuti pendidikan. Kejarlah ilmu sampai dapat sesuai dengan cita-cita yang kita inginkan agar keselamatan, keamanan terjamin di Tanah Tabi,” katanya.

Sementara itu, Ondofolo Kampung Atamali sekaligus Wakil Ketua Dewan Adat Suku Sentani, Septinus Ibo, meminta pelajar tidak mengikuti ajakan aksi penolakan terhadap MBG.

Septinus menilai MBG merupakan program pemerintah yang perlu dilihat secara utuh. Jika terdapat persoalan dalam pelaksanaannya, menurut dia, hal tersebut harus dievaluasi dan diselesaikan oleh pihak yang bertanggung jawab.

Ia meminta masyarakat tidak terjebak pada isu negatif yang dapat memperkeruh keadaan.
“Hal-hal yang pernah terjadi, yang kamu pernah dengar ataupun lihat, itu ada kesalahan-kesalahan teknis yang sudah ditindaklanjuti oleh pihak yang bertanggung jawab. Jadi kita tidak perlu terpengaruh oleh pihak atau kelompok yang memberikan isu-isu negatif untuk menentang MBG,” tegasnya.

Septinus bahkan menyerukan agar program tersebut diperbaiki dan ditingkatkan, bukan dihentikan.
“Selamatkan MBG, tingkatkan MBG dan berikan respons yang positif agar MBG ini tetap berjalan. Kami Dewan Adat Suku Sentani, saya sendiri pribadi mendukung MBG selanjutnya dan seterusnya tetap berjalan,” katanya.

Menurutnya, keberadaan MBG dapat membantu keluarga, khususnya masyarakat dengan kondisi ekonomi terbatas. Karena itu, persoalan teknis dalam pelaksanaan program harus menjadi bahan evaluasi tanpa harus menyeret pelajar ke dalam polemik.

Ia juga mengingatkan agar pelajar tidak dijadikan alat untuk kepentingan kelompok tertentu.
“Oleh sebab itu saya minta dengan segala hormat, jangan mengatasnamakan pelajar,” ucapnya.

Penegasan juga disampaikan Ondofolo Kampung Homfolo, Anderson Tokoro. Ia mengimbau mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Sentani untuk tidak terlibat dalam gerakan yang berpotensi mengganggu keamanan.

Mewakili para Ondofolo di Sentani, Anderson menegaskan bahwa pada 15 September tidak boleh ada gerakan yang bertujuan mengacaukan wilayah Sentani.
“Saya mengimbau mewakili seluruh Ondofolo di Sentani, Kabupaten Jayapura, Tanah Tabi. Mengimbau supaya pada tanggal 15 tidak boleh ada gerakan-gerakan atau tindakan-tindakan yang mencoba menghancurkan, mengacaukan Sentani, Kabupaten Jayapura,” tegas Anderson.

Ia meminta masyarakat tidak memberikan ruang bagi provokasi yang dapat berujung pada tindakan anarkis.
“Tidak boleh ada upaya-upaya untuk memprovokasi agar terjadi tindakan-tindakan anarkis di Tanah Sentani,” ujarnya.

Anderson juga mengajak aparat keamanan dan seluruh masyarakat bersama-sama menjaga Sentani sebagai rumah bersama yang telah dibangun dengan kebersamaan.

Menurutnya, menjaga keamanan bukan hanya tugas pemerintah dan aparat, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat.
Para tokoh adat berharap pelajar dan mahasiswa tidak menjadi korban kepentingan maupun provokasi. Mereka diminta tetap berada di jalur pendidikan, menjaga diri, dan ikut merawat kedamaian Tanah Tabi.

Ia meminta jangan seret pelajar ke dalam konflik. Jika ada persoalan, selesaikan dengan cara yang baik. Sentani adalah rumah bersama dan kedamaiannya menjadi tanggung jawab semua pihak. (El)